Pengalaman Punya PRT Drama

Disclaimer: Bukan gue yang mempekerjakan pekerja rumah tangga (selanjutnya disebut PRT), melainkan oma dan opa gue.

Di Indonesia, setiap keluarga punya PRT sudah jadi barang biasa. Keluarga gue baru lepas dari PRT sejak 5 tahun yang lalu. Awalnya memang terasa susah karena pada nggak biasa kerja, tapi lama-lama terbiasa, malah untuk oma opa gue, mereka lebih aman meninggalkan rumah kosong daripada kalau ada PRT-nya. Tapi bukan berarti mereka berhenti mencari PRT yang rajin, jujur, dan setia.

Sekitar empat tahun lalu, rumah kami kebagian dua orang PRT yang berasal dari daerah yang sama. Gue sendiri lupa mereka asalnya dari mana. Dua sekawan ini cukup pintar, kerja juga rajin, pokoknya boleh lah ya. Selaku pemberi kerja, kami juga memperlakukan mereka dengan layak. Soal makanan, mereka bisa makan apa saja dari kulkas dan kami nggak ngelarang mereka makan makanan tertentu. Begitu juga soal waktu istirahat, jam tidur mereka juga normal kok. Bahkan kalau pekerjaan cepat selesai, mereka bisa punya waktu buat tidur siang. Soal kamar, kami punya satu kamar kosong yang biasanya dijadikan tempat menyetrika sekaligus kamar tidur PRT. Kondisinya cukup baik, ada tempat tidur memadai, kipas angin, bahkan ada TV sendiri.

Nah, lama-lama gue mulai merasa aneh dengan kedua PRT baru ini. Yang dahulu kerjanya beres, sekarang jadi ngasal. Selain itu, mereka jadi gampang ‘ngejawab’ oma gue. Jelas-jelas oma gue jadi sering ngomel dong sama mereka. Tingkat keparahan mereka adalah ketika mereka lapor ke yayasan bahwa kami memperlakukan mereka secara nggak adil! Mereka lapor bahwa tempat tidur mereka nggak layak, mereka nggak dikasih makan yang baik, dan mereka disuruh kerja terus-menerus. Salah satu dari mereka lapor bahwa kami cuma memberi mereka makan indomie. Lha, padahal sepengelihatan gue, mereka memang memilih untuk makan indomie ketimbang makanan yang biasa kami makan.

Akhirnya, tingkat keparahan yang luar biasa lebay adalah saat mereka panggil polisi untuk ke rumah. Gile, si PRT menjelaskan cerita palsu mereka pakai air mata dan nangis-nangis bombay segala. Untungnya opa gue pintar dan dia ngomong ke polisi semua yang benar, bahwa kami memberi mereka standar hidup yang cukup baik, makan nggak dilarang-larang, dan mereka aja yang cari ribut dengan keluarga kami. Akhirnya si polisi membawa dua PRT tersebut ke kantornya dan orang dari yayasan jemput mereka di kantor polisi.

Beberapa minggu kemudian, tante gue bercerita bahwa dia masih kontak dengan salah satu PRT drama tersebut. Lalu dia cerita bahwa si PRT ngirim SMS, lapor bahwa dia sudah bekerja di majikan baru, dan dia juga curhat bahwa si majikan baru berbeda jauh dengan cara kami memperlakukan mereka. Katanya, makannya dijatah, tidurnya cuma pake matras. Gue cuma cekikikan denger cerita tante gue itu. Siapa suruh bikin fake news? Hihihi!

Apakah kalian pernah punya pengalaman PRT drama yang sampe bawa-bawa polisi segala?

11 komentar pada “Pengalaman Punya PRT Drama”

  1. Punya PRT itu emang hit dan miss. Dari dulu kita dirumah nggak punya PRT (ortu sempet punya PRT waktu anak masih kecil2, tapi udah ga pake lagi) jadi aku nggak pernah ngalamin dirumah ada PRT. Kita juga merasa “risih” kalau dirumah ada orang lain yang bukan family.

    PRT nya omaku dari pihak mama tuh baik banget, udah lama banget ikut omaku, sampe ketika dia akhirnya harus brenti karena merit, kita sampe sedih banget, karena perhatian banget dan ikut ngejaga oma, dan pas kita kalau pas kecil2 liburan di rumah oma itu si mbak baik dan sabar sama kita semua walaupun nakal2.

    Banyak sih denger cerita horor PRT dari tante/om2, yang males lah, suka nyolong makanan lah (padahal tante2/om2 pun ga ngasi batesan urusan makanan, tapi kalau ngambil mbok ya bilang…kejadian kaya kue ulang tahun yang mendadak lenyap dikulkas etc, toh kita juga kalau makan yang kaya gitu pasti koar2 kasi tau juga kan). Makanya udah bener keputusan mama waktu itu nggak maupake PRT.

    Suka

    1. Sebelum dua orang ini, aku pernah punya PRT yang super baik dan pintar. Anaknya baru lulus SMA. Sayangnya dia cuma tinggal di rumah setahun karena abis Lebaran gak mau balik lagi. Katanya dikawinkan, eh ternyata kerja di pabrik.

      Suka

  2. Kebangetan juga ya PRT-nya. Terus itu akhirnya ketahuan nggak Mbak motifnya sang dua sekawan PRT sampai bikin fake news itu apa? Apa supaya naik gaji, atau memang mau cari ribut, atau mungkin malah ada niat jahat? Habisnya keterlaluan banget kalau sampai bawa-bawa polisi. Orang tua saya di kampung juga memekerjakan PRT, tapi syukurlah semua baik-baik saja sampai sekarang. Mudah-mudahan PRT di kampung tidak sampai bikin drama begini, amit-amit.

    Suka

    1. Akhirnya gak ketahuan. Mungkin mereka emang mau cari gara gara aja. Untungnya gak ada uang atau perhiasan hilang. Biasanya PRT yang di kampung malah yang lebih manusiawi daripada yang di kota. Mungkin karena yang di kota udah tau gaji bagus dan jadinya malah matre kali ya, sementara di kampung kan atas dasar kekeluargaan.

      Suka

  3. Wowwwww. Di satu sisi aku kagum mereka berani panggil aparat, karena banyak yang gak berani panggil aparat ketika dianiaya. Tapi di sisi lain juga gemes, kalau manggil aparat harus punya kasus dong. Bikin repot aparat aja.

    Suka

  4. wah gue juga pernah ngalamin kasus kaya gini nih. Pas jaman gue SD. Sampe bawa-bawa polisi juga tapi dari sisi keluarga gue yang lapor ke polisi soalnya si mbak yang kerja di rumah nenek gue tuh lapor ke yayasannya kalo dia disiksa. Padahal kenyataannya malah dia yg sering nyuri uang nenek gue, kacau abis.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.