Etika bertamu di Belanda

Disklaimer:

  • Tulisan ini bukan dibuat untuk menggeneralisasi populasi Belanda secara keseluruhan.
  • Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi, testimoni dari orang-orang terdekat, dan sedikit stereotip yang ada di media sosial.

Ada pepatah Indonesia yang berkata seperti ini, “Lain ladang, lain belalang. Lain lubuk, lain ikannya”. Seperti yang kita sudah tahu, pepatah ini artinya adalah setiap daerah/negara punya adat istiadat tertentu yang mau nggak mau harus diikuti jika kita sudah menetap lama di tempat tersebut.

Masyarakat Belanda adalah masyarakat yang unik. Dalam masyarakat Belanda, jika seseorang sudah mengundang kamu untuk bertamu ke rumahnya, itu tandanya orang tersebut sudah menganggap kamu cukup dekat dengan dia. Kenapa? Menurut pengalaman gue, rumah bagi masyarakat Belanda adalah hal yang sangat pribadi. Dengan mengundang seseorang ke rumah, mereka seakan merelakan sedikit bagian private dari hidupnya untuk dilihat oleh orang lain.

Hal ini sepertinya cukup berbeda dengan masyarakat Indonesia yang guyub dan cepat mengundang orang lain untuk main ke rumah mereka. Maka dari itu, gue tergerak untuk menulis sesuatu tentang kebiasaan bertamu di Belanda. Apa saja hal-hal yang bisa kamu perkirakan jika diundang bertamu ke rumah orang lokal? Lewat tulisan ini, gue nggak mau menggurui lho ya. Cukup menuliskan beberapa pointer yang gue ingat-ingat sebelum diundang bertamu. Semoga bermanfaat.

Timing is important

Ketika kamu diundang seseorang ke rumahnya, penting untuk mengetahui waktu dari undangan ini. Jika kamu diundang untuk makan siang, maka biasanya si empunya rumah akan menyediakan makanan untuk makan siang. Kalau diundangnya sore-sore, biasanya hanya dalam bentuk afternoon tea/coffee. Jika kamu diundang sekitar waktu makan malam, maka si empunya rumah akan mempersiapkan makan malam.

Gue belum pernah mengalami ini, tapi berikut ini adalah skenario yang cukup familiar saat diundang bertamu di Belanda, apalagi kalau diundang sore-sore: Menjelang makan malam, si empunya rumah akan “kode-kode” nyuruh kamu pulang. Kenapa? Karena mereka ngga menyediakan makan malam untuk kamu! Ini beneran. Suami gue dulu sering mengalami hal ini, saat dia masih sekolah. Ada juga cerita temannya suami yang main di rumah temennya, lalu saat makan malam, orangtua si teman cuma ngasih dia roti keju untuk makan malam.

Mungkin gue sedikit beruntung ngga mengalami ini karena kebanyakan teman gue adalah imigran atau orang Belanda yang sudah cukup terpapar dengan budaya extend bertamu hingga malam hari. Kalau diundang ke rumah orang Indonesia, pasti penuh dengan hidangan nikmat dan ujung-ujungnya bisa dibungkusin. Pernah juga gue diundang ke rumah pasangan Belanda-Kolombia di sore hari. Gue kira mereka akan “mengusir” kami pada jam makan malam, tahunya mereka pada mau pesan Chinese food untuk makan bersama.

Tepat waktu!

Ada hubungannya dengan poin diatas, jika waktu sudah ditetapkan oleh si tuan rumah, sebaiknya kamu datang tepat waktu, apapun alasan bertamu. Secara halus, si tuan rumah biasanya ngomong “You can come from X o’clock“, yang artinya “Jangan datang sebelum jam X ya, karena gue belum siap. Tapi jangan datang terlalu terlambat dari jam X juga”.

Jika kamu terlambat beberapa menit, kamu bisa mengabarkan keterlambatan kamu ke tuan rumah. Jangan takut, transportasi umum dan waktu tempuh di Belanda ini sangat bisa diprediksi. Jam karet nggak berguna disini.

Terus, kalau kamu harus membatalkan, gimana? Lebih baik beritahu tuan rumah sejak jauh-jauh hari. Hal ini sepertinya sudah agak ditinggalkan, mengingat sekarang masih pandemi COVID-19 dan bisa saja kamu atau si tuan rumah terkena COVID mendekati atau saat hari-H. Seenggaknya publik Belanda sudah bisa agak fleksibel karena hal ini.

Jangan ragu menolak atau memberikan preferensi makanan

Jika kamu diundang bertamu oleh teman lokal, sebelum hari-H, jangan ragu memberitahu mereka jika kamu punya preferensi makanan. Justru si tuan rumah akan sangat senang dengan gestur ini karena mereka bisa mempersiapkan makanan yang mereka tahu akan kamu sukai. Preferensi makanan nggak melulu berhubungan dengan kesehatan atau agama, kok. Contohnya, teman-teman gue sudah tahu kalau gue vegetarian. Maka jika mereka mengundang gue bertamu, mereka tahu bahwa mereka harus menyiapkan menu sayuran atau ikan untuk gue.

Demikian pula jika kamu diundang bertamu lalu ditawarkan sesuatu yang nggak kamu suka. Nggak ada salahnya untuk menolak tawaran makanan tersebut dan memilih yang lain. Si tuan rumah ngga akan jadi baper, kok. Justru mereka akan bingung jika kamu menolak sesuatu tanpa alasan yang jelas atau menggunakan alasan yang pasif-agresif.

Membawa buah tangan

Di Belanda, apapun acaranya, penting untuk membawa sedikit buah tangan untuk tuan rumah sebagai bentuk terimakasih sudah diundang ke rumahnya. Nggak perlu ribet atau mahal, buah tangan disini biasanya dalam bentuk sederhana dan mudah ditemui di supermarket seperti coklat, buket bunga, atau sebotol wine.

Jika kamu diundang teman lokal yang punya anak kecil, alternatif memberi buah tangan untuk orangtua adalah memberi buah tangan untuk anaknya. Bisa dalam bentuk sebungkus permen, coklat, atau mainan kecil yang bisa dibeli di toko-toko seperti Action atau Kruidvat. Lagi-lagi, nggak perlu mahal! Pasti anaknya senang karena dapat oleh-oleh dan orangtuanya (tuan rumah) pun senang karena kamu memerhatikan anak mereka.

Betaalverzoek itu wajar

Hal ini adalah salah satu yang paling menjadi gegar budaya orang non-Belanda ketika pindah kesini dan diundang bertamu ke rumah teman lokal. Kadang-kadang, setelah makan, mereka bisa mengirimkan payment request ke rekening bank kamu, lho!

Jangan kaget ya dengan pesan WhatsApp seperti ini! Gambar diambil dari sini

Menurut pengalaman gue sih, gue jarang mengalami hal unik seperti ini. Si tuan rumah hanya akan meminta kamu untuk ikut patungan makanan jika dia mengundang beberapa orang untuk acara-acara informal seperti santai-santai barbecue-an atau kaasfondue. Jika kamu ogah ikut patungan makanan, kamu bisa ikut berkontribusi dengan cara menyumbang sesuatu yang bisa dikonsumsi ramai-ramai, seperti bahan makanan, satu krat bir, atau beberapa botol softdrink.

Gue pernah diceritain oleh seorang teman tentang pengalaman dia dan tunangannya diundang makan malam oleh couple friend lain, dan begitu mereka pulang, salah satu tuan rumah mengirimkan payment request ke Whatsapp-nya. Haduh, sedih tapi mau ngakak dengernya 🥲


Kesimpulan

Bertamu di Belanda adalah seni bergaul yang mungkin agak sulit untuk dikuasai karena banyaknya perbedaan dengan bertamu di Indonesia. Jangan menyerah! Jika kamu dapat undangan bertamu, santai aja. Lakukan beberapa tips di atas dan gue yakin kamu akan baik-baik saja.

Mengikuti disklaimer di atas, nggak semua hal-hal di tulisan ini akan terjadi kepadamu. Sudah banyak kok, keluarga muda Belanda, baik yang kulit putih maupun keturunan, yang sudah cukup fleksibel dalam bertamu atau menerima tamu. Tapi kalau soal ulang tahun, wah… itu lain lagi, dan bisa jadi bahan tulisan sendiri 😆

4 komentar pada “Etika bertamu di Belanda”

  1. Kurleb sama lah ya sama etiket disini dan klo harus urunan itu biasanya sesuatu yang udah disetujui lebih dahulu alias host nya cuman ngehosting doang, ga ikut modal haha. Aku juga lama di Denmark ngga pernah ketemu hosting yang minta di transfer kek gini, kecuali emang rencananya dari awal kita urunan. Sempet denger cerita dari salah satu ekspat yang tinggal di pedesaan klo dia mengalami kek gini. Diundang makan, eh tau2 disuru transfer buntutnya, ngga tau apa karena dia salah paham dari awal karena beda budaya dan kurang mengerti bahasanya LOL

    Suka

    1. Nah pengalaman temanku itu mirip dengan pengalaman si ekspat yang tinggal di kampung. Aku cerita ke suami, dia sampe ngakak karena baru denger ada orang Belanda yang saking pelitnya bahkan undang dinner di rumah aja mesti kirim payment request.

      Disukai oleh 1 orang

    1. Berdasarkan pengalaman aku yang dibesarkan oleh orang dulu (baca: kakek nenek yang pernah dapet pendidikan Belanda), kebiasaan2 di atas ngga dipraktekkan di rumah tangga mereka. Tapi yang pasti ada tuh, kalau diundang ke rumah orang dalam rangka hajatan, pasti kita harus mengucapkan selamat ke seluruh orang disitu, apalagi anggota keluarga yang mengundang. Itu kentara banget sampai di Belanda kontemporer. Kalau diundang ke acara ulangtahun orang, pasti kita juga diselamatin, padahal kita ngga ulangtahun, sesama tamu doang.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.