3 Pelajaran yang Diambil Saat Resign

Di tulisan terakhir tahun 2021, gue sempat menulis tentang keputusan gue resign untuk menjawab tantangan baru di perusahaan lain. Di tulisan tersebut, gue menulis bahwa alasan gue resign adalah karena gue merasa bahwa goals dari judul pekerjaan gue sudah tidak sesuai dengan yang gue inginkan.

Alasan di atas memang menjadi alasan utama gue untuk resign dari kantor, namun gue masih punya tiga alasan lain, yang akhirnya menjadi pelajaran. Semoga tiga pelajaran ini bisa menjadi inspirasi jika kalian merasa butuh mencari pekerjaan baru.

Disklaimer: Tulisan ini tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan kantor lama dan pegawai-pegawainya.

Pelajaran 1: Percayai intuisimu

Kira-kira di akhir kuartal pertama tahun 2021, sudah ada yang tidak beres dengan atmosfer pekerjaan di kantor gue. Pada saat itu, gue mulai merasa bahwa gue diperlakukan seperti sekrup di dalam sebuah mesin yang besar. Setiap kali ngobrol dengan manajer, dia hanya menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan, seperti “Konten untuk proyek X sudah selesai, belum?” “Update teks untuk brosur produk B gimana?” dan lain-lain. Gue seolah dipaksa untuk selalu produktif. Jika gue bilang belum selesai, si manajer akan kelihatan/kedengaran jengkel, lalu dia akan menakut-nakuti gue dengan kemungkinan reaksi manajernya (yang adalah CEO kantor gue), seperti “Aduh, kalau belum selesai, nanti si bos akan nagih-nagih gue terus!”.

Pelan-pelan gue merasa lelah. Lelah dikejar-kejar pekerjaan, lelah juga harus berinteraksi dengan si manajer yang lama-kelamaan tingkahnya jadi seperti mandor saja. Setelah introspeksi dan ngobrol sana-sini dengan orang-orang terpercaya, akhirnya gue menyimpulkan bahwa lingkungan kerja ini ibarat bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak, jadi gue harus meninggalkan lingkungan ini secepat mungkin sebelum kena getahnya.

Pelajaran 2: Jangan memaksa diri

Pertengahan tahun hingga akhir kuartal ketiga tahun 2021, gue mulai merasa direction pekerjaan gue pelan-pelan mulai berubah dari tujuan awal. Contohnya, teks yang gue tulis harus mulai berbau korporat dan bernada lebih resmi. Sebagai orang yang datang dari latarbelakang penulisan kreatif dan akademik, mengubah nada penulisan menjadi lebih resmi cukup menyulitkan gue.

Selain itu, gue mulai menemukan beberapa orang, yang ngga ada hubungannya dengan pekerjaan gue atau yang baru pertama korespondensi secara profesional, seenaknya memberikan unsolicited opinion tentang hasil pekerjaan gue. Hal ini sungguh membuat gue jengkel. Baru saja berkenalan dan melihat hasil pekerjaan gue, kok langsung memberi saran padahal gue nggak minta dan mereka nggak tahu gimana dinamika bekerja dengan gue?

Hal terakhir yang membuat gue cukup jengkel dan akhirnya mencari pekerjaan baru adalah adanya tuntutan skill baru tanpa kenaikan gaji. Di akhir tahun, gue ditantang si manajer mandor untuk membuat konten dengan format video. Awalnya gue merasa tertantang untuk membuktikan bahwa gue bisa membuat sesuatu yang sebelumnya belum pernah gue buat. Dengan bantuan kolega dari kantor negara tetangga, gue berhasil merilis konten video perdana gue yaitu video perkenalan seorang karyawan baru. Senang sih, namun proyek ini seolah menyadarkan gue bahwa gue bukan tipe orang yang senang buat konten seperti ini.

Menjelang akhir tahun, si mandor mulai memberi hint bahwa mulai tahun depan, gue harus bisa menelurkan lebih banyak konten video, padahal gue sudah menyuarakan bahwa gue nggak suka. Gue semakin merasa bahwa jika gue bertahan di pekerjaan ini sampai tahun depan, pasti gue akan semakin nggak suka bekerja disini karena gue perlahan menjadi sesuatu yang nggak “gue banget”. Akhirnya gue memilih untuk jujur menjadi diri sendiri dan mencari perusahaan lain yang sejalan dengan visi dan misi karir gue.

Pelajaran 3: Kenali energi negatif

Pelajaran ini ada hubungannya dengan pelajaran pertama. Sepanjang tahun 2021, walaupun karir gue lancar (di tahun ini gue mendapatkan kontrak permanen dari perusahaan tersebut), tapi semakin lama gue semakin merasa makan buah simalakama. Oke lah, posisi gue akhirnya aman, namun di sisi lain, gue merasa semakin banyak energi negatif yang gue rasakan dari pekerjaan ini.

Energi-energi negatif ini awalnya bermulai dari perasaan malas pergi ke kantor saat jadwal work from office. Bukan hanya malas, tapi gue merasa pergi ke kantor tidak ada gunanya karena pekerjaan yang sangat monoton dan bisa dilakukan dari rumah. Seperti nggak ada inspirasinya, gitu. Energi malas dan non-inspiratif ini kemudian berubah menjadi perasaan jengkel ketika berpikir bahwa gue harus berinteraksi dengan kolega jika pergi ke kantor. Rasanya gue ingin kerja lima hari di rumah saja dan nggak harus berinteraksi secara langsung dengan mereka.

Perlahan, energi-energi negatif skala kecil ini berubah menjadi skala sedang dan skala besar. Untuk gue sih, energi negatif ini bermanifestasi menjadi perasaan males mikir dan males berkembang. Jika ada proyek, maka gue akan mengerjakan proyek itu seminimal mungkin. Bahasa Inggrisnya: “Doing the bare minimum“. Malas berpikir analitis atau memberi ide-ide kreatif dan hasil kerjanya ya jadi sesuai template saja. Pada saat krusial ini, otak gue seolah memberi sinyal red flag ke bagian otak yang bertugas mengendalikan kepribadian dan kreativitas. Gue kemudian sadar bahwa pekerjaan ini sudah membuat gue menjadi orang yang dikendalikan energi negatif dan gue harus mengubah sesuatu. Jika tidak bisa mengubah perusahaan, maka gue harus pindah ke perusahaan lain.


Sebenarnya masih banyak alasan/pelajaran lain yang gue petik dari pengalaman resign ini, namun yang lain itu sifatnya lebih pribadi dan jika gue tulis disini akan jadi kedengaran negatif dan menunjuk ke beberapa nama dan posisi tertentu. Gue ngga kepengen tulisan ini berubah menjadi curcol tanpa arah. Biarlah alasan-alasan lain itu nangkring di diary pribadi gue saja deh, hanya gue yang bisa lihat.

Yuk share pengalaman kamu ketika resign. Apa saja pelajaran-pelajaran yang kamu petik sebelum dan sesudah keluar dari kantor? Jika ada yang minta wejangan karena kepikiran untuk resign, apa saja saran yang akan kamu berikan?

2 komentar pada “3 Pelajaran yang Diambil Saat Resign”

  1. Aku sudah 3 kali resign selama pengalaman kerja di Denmark. Dua diantara tiga kalinya karena work environment, yang ketiga purely karena cari tantangan baru.

    Yang pertama karena ngga tahan sama work environmentnya (kerja di kommune / negara), aku ngga bisa kerja dengan gaya kerja PNS. Yang kedua karena kantor aku akuisisi perusahaan baru jadi selalu ada perasaan us vs. them yang bikin pekerjaan / teamwork kita kurang menyenangkan, dan yang ketiga, yang baru2 ini koleganya cocok berat, cuman karena perusahaannya medium size, jadi proyeknya ecek2 semua. Baru sekarang ngerasa kerja di proyek yang sesuai dengan harapan.

    So far sih pengalaman resign karena work environment lebih kearah clash personality bukan karena ditekan workload yang kaya kamu cerita, aku rasa aku beruntung ngga pernah ngalamin kek gitu disini, cuman memang personally not getting along sama banyak orang aja (karena work pacenya beda, dan us vs. them itu tadi).

    Kadang memang klo udah ga tahan, ga bisa di pertahankan, karena kita yang bakal kehilangan arah (dan merasa malas bekerja). Selama ada opportunity untuk pindah ke tempat baru, ya kudu dicoba, karena menurutku juga sehat banget untuk selalu mencoba sesuatu yang baru, jadi ga stuck di satu tempat bertahun2.

    Suka

    1. Aku tuh tahun lalu udah mulai kehilangan arah, makanya lama-lama jadi merasa negatif disitu. Apalagi untuk pekerjaan kreatif seperti bidang aku ini, berasa banget kalo sebuah pekerjaan udah terlalu monoton. Oh iya, lupa nulis di tulisan awal, perbedaan generasi juga jadi salah satu alasan kenapa aku mau resign. Kantor lama aku isinya kebanyakan boomer yang udah terlalu nyaman dengan posisinya. Regenerasi ke orang2 lebih muda atau lebih melek teknologi tu lama banget disana. Aku jadi sering lelah ngajarin atau advokasi tentang tools baru karena mereka susah banget nangkep. Atau misalnya ada teknologi baru yang semangat untuk diimplementasikan, ujung2nya jadi B aja karena kebanyakan birokrasi dan hasil akhirnya malah jadi gak optimal karena kebanyakan pengen ikut maunya si boomer.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.