Dua Kali ke Amsterdam

Jika orang bertanya, “Kapan terakhir kali kamu pergi ke Amsterdam?”, gue akan menjawab, “Saking lamanya, gue sudah lupa kapan terakhir kali kesana”.

Waktu masih kuliah, gue cukup sering bertandang ke Amsterdam karena kota ini bisa diraih dalam waktu sekitar 20 menit naik kereta dari Leiden. Saat itu, gue masih punya cukup banyak teman untuk diajak ke Amsterdam seharian saat weekend, entah itu untuk menjelajah museum atau party sampai pagi.

Semakin lama, Amsterdam seperti semakin asing untuk gue. Menurut gue, kota itu terlalu berisik, terlalu banyak turis, dan terlalu overrated. Makanya setelah settle down di Den Haag, gue sudah jarang sekali pergi kesana. Apalagi ongkos kereta dan jajan di Amsterdam cukup mahal.

Tahun ini, setelah bertahun-tahun absen ke Amsterdam, akhirnya gue mengunjungi ibukota negara ini sebanyak dua kali dalam dua minggu berturut-turut. Tulisan ini adalah sedikit rekap kunjungan gue ke Amsterdam.

Kunjungan Pertama: Rijksmuseum

Kunjungan pertama adalah hari Kamis tanggal 17 Maret, dengan tujuan pergi ke Rijksmuseum untuk datang ke eksibisi berjudul “Revolusi!”. Gue pergi bersama teman gue mbak Ajeng dan R. Kunjungan ini sudah gue rencanakan beberapa minggu sebelumnya bersama mbak Ajeng. Tiba-tiba R kepingin ikut, ya sudah deh dia jadi nimbrung. Kami bertiga berangkat dari stasiun Den Haag Centraal.

Lukisan Nachtwacht sedang di restorasi

Tentang Pameran “Revolusi!”

Untuk yang ngga tau, “Revolusi!” berkisah tentang perjuangan Indonesia untuk mengesahkan kemerdekaan bangsa sejak tahun 1945 hingga 1949. Dalam pameran sementara ini, pengunjung diajak untuk menyimak berbagai cerita dari berbagai pelaku dan saksi sejarah pada masa itu, mulai dari prajurit Indonesia pribumi, orang kaya keturunan Tionghoa, orang Maluku, orang asing yang bekerja sebagai wartawan perang, hingga komunitas Indo-Belanda yang baru lepas dari kamp interniran Jepang. Formatnya juga nggak melulu linear secara sejarah, melainkan lebih bertema visual. Alih-alih memfokuskan diri pada tanggal dan tahun, pameran ini lebih berbicara lewat medium seni, baik itu lukisan atau seni kontemporer.

Ada juga berbagai benda koleksi pribadi sebagai alat cerita tentang beberapa saksi sejarah. Sebagai contoh, ada cerita seorang ibu Indo-Belanda yang membuat house dress (semacam jubah mandi) dari peta perang peninggalan Inggris karena dia ngga bisa menemukan tekstil setelah lepas dari kamp konsentrasi Jepang. Jubah mandi ini kemudian menjadi salah satu benda yang dipamerkan di eksibisi ini.

Satu hal yang menurut gue cukup menarik adalah lewat pameran ini gue menyadari bahwa perhatian gue kini sudah beralih dari aspek sejarah ke aspek seni. Contohnya, gue malah lebih tertarik melihat berbagai lukisan masa Revolusi yang dipamerkan di pameran tersebut, seperti lukisan mini karya Mohammad Toha, karya-karya Affandi, bahkan sketsa-sketsa Linggajati dari pelukis favorit gue, Henk Ngantung. Disana juga dipamerkan berbagai poster propaganda dari berbagai pihak; mulai dari pihak Pemuda, pihak Belanda, bahkan ada poster propaganda dari PKI juga, lho!

poster propaganda revolusi Indonesia
Salah satu poster propaganda Revolusi yang dipamerkan di pameran Revolusi!
foto foto masa revolusi
Jaman dulu, gaya mereka sudah lebih keren daripada kita, ya.

Sepulangnya gue dari eksibisi, karena gue sangat terkesan dengan isi pamerannya, gue rela merogoh kocek agak mahal untuk membeli buku pedoman pameran tersebut. Dalam buku ini, gue bisa membaca ulang tentang benda-benda pameran dan cerita-cerita di balik benda dan lukisan tersebut. Sejauh ini, narasinya cukup menarik dan nggak membosankan untuk dibaca. Nggak nyesel keluarin uang 27 euro untuk beli buku ini.

Kunjungan Kedua: Made’s Warung Amsterdam

Seminggu kemudian, tepatnya di hari Sabtu tanggal 26 Maret, gue kembali mengunjungi Amsterdam. Kali ini untuk bertemu dengan beberapa teman blogger yang sudah lama sekali nggak ketemu. Hari itu cuaca Amsterdam cukup enak, cuaca khas musim semi, di mana matahari cukup terang benderang, nggak berawan, tapi masih ada angin sepoi-sepoi.

Awalnya kami mau makan makanan Indonesia di Utrecht, di sebuah restoran namanya Warung Anisah. Sayangnya, Warung Anisah cabang Utrecht sedang di renovasi sampai waktu yang belum ditentukan. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Amsterdam untuk mencoba restoran namanya Made’s Warung Amsterdam di daerah Oud-Zuid.

Made’s Warung Amsterdam ini merupakan cabang resmi dari Warung Made, rantai restoran yang sudah sangat terkenal sebagai melting pot turis lokal dan internasional di Bali. Menu Made’s Warung Amsterdam sepertinya sudah dimodifikasi sesuai dengan lidah atau kebiasaan orang Belanda. Pegawainya orang Belanda yang cukup fasih berbahasa Indonesia. Walaupun lauk pauknya sudah nggak terlalu Bali lagi, tapi gue masih menemukan beberapa makanan yang “Bali banget” seperti sate lilit dan sisit ayam. Foto di bawah adalah pesanan gue siang itu, nasi campur vegetarian.

Menurut gue sih makanannya lumayan enak. Sayangnya kurang pedas. Setelah makan makanan utama, masih ada sisa ruangan di perut untuk dessert. Gue memesan spekkoek dan minum kopi. Tadinya mau pesan otak otak, tapi kata mbak pelayan, otak otak habis.

Setelah puas makan makanan Indonesia, kami mencari kafe untuk lanjut ngobrol sambil ngopi atau minum cocktail. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Sayangnya, kemanapun kami pergi, kafe-kafe selalu menolak kami karena mereka sudah mau tutup. Rupanya, efek Corona masih cukup nyata untuk usaha kecil dan menengah. Mereka mengaku kekurangan staff jadi terpaksa harus tutup lebih awal. Akhirnya kami memutuskan untuk cabut dari daerah Oud-Zuid dan bergegas menuju daerah Centrum yang lebih banyak kafenya.

Setelah keluar masuk beberapa kafe di Centrum dan selalu ditolak karena penuh, akhirnya kami menemukan satu tempat ngopi yang buka sampai pukul tujuh malam dan lumayan sepi. Disanalah kami lanjut ngobrol. Gue memesan cangkir kopi kedua gue, kali ini pilihan jatuh ke iced coffee with soy milk. (Semoga malam ini masih bisa tidur pulas!).

Obrolan kembali dilanjutkan, isinya seputar kehidupan sehari-hari dan fenomena interaksi orang-orang di Twitter. Ada juga cerita-cerita tentang keputusan pribadi yang sepertinya hanya cukup kami saja yang tahu. Intinya, pembicaraan kami sangat menarik, ibarat teman lama yang udah lama ngga ketemu, tapi topik obrolannya masih sama. Inilah yang gue value dari pertemanan di Belanda; kamu ngga perlu ketemu teman kamu setiap minggu atau setiap bulan, tapi sekalinya ngobrol akan tetap nyambung.

Sekitar jam tujuh malam, kami keluar dari kafe tersebut karena mereka mau tutup dan beringsut menuju Amsterdam Centraal. Gue dan dua teman naik kereta kembali ke Den Haag dan tiba di rumah sekitar jam setengah sembilan malam. Satu teman beranjak ke Arnhem dan tiba di rumah sekitar di jam yang sama. Satu lagi masih di Amsterdam untuk malam Minggu sama pacarnya.

Kesan-kesan Amsterdam setelah ratusan purnama

Setelah sekian lama nggak mengunjungi Amsterdam dan tahun ini sudah mengunjungi Amsterdam sebanyak dua kali berturut-turut, kesan gue masih cukup sama dengan kesan yang melekat sejak dulu. Apalagi turisme Belanda sekarang sudah mulai bangkit. Hal ini terlihat jelas dari banyaknya turis yang gue temui dalam perjalanan naik bus dari Schiphol Airport ke Made’s Warung, dan semakin jelas saat mengunjungi Centrum. “Covid is niet meer” (Covid is no more), begitu kata mbak Ajeng.

Walaupun begitu, gue senang kali ini datang ke daerah Oud-Zuid, daerah yang sangat kontras dengan Centrum. Jikalau Centrum isinya penuh dengan turis dan semerbak bau ganja, di Oud-Zuid gue menemukan ke-hipster-an Amsterdam yang sesungguhnya. Keluarga muda dengan bakfiets mereka, ibu-ibu separuh baya dengan pakaian (masih) trendy, jejeran teras kafe penuh dengan pengunjung dengan segelas wine atau sebotol bir di genggaman mereka, dan suasana yang cukup tenang, namun agak ramai juga.

Mungkin butuh beberapa bulan untuk gue “sembuh” dari hingar bingar Amsterdam. Entah kapan gue bisa mengunjungi kota ini lagi. Mungkin bulan Juni kali ya, kalau jadi nonton konser Noah.

4 komentar pada “Dua Kali ke Amsterdam”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.