Mencari teman orang lokal Belanda, apakah sulit?

Inspirasi menulis artikel ini sebenarnya datang dari julid. Ceritanya, gue adalah seorang anggota di sebuah forum di Facebook khusus untuk ekspatriat/imigran wanita di Belanda. Orang lokal Belanda juga boleh ikutan. Namanya juga forum umum, maka postingan para anggotanya cenderung random, mulai dari minta tips rumah tangga hingga promosi side hustle (postingan ini hanya boleh di hari-hari tertentu saja).

Walaupun begitu, berdasarkan observasi gue, ada tiga topik utama yang sering dituliskan oleh anggota di grup tersebut, baik secara anonim atau tidak:

  • Minta pengalaman tentang berkencan atau pacaran dengan cowok Belanda,
  • Stres atau frustrasi karena susah nyari kerja di Belanda padahal mereka punya pekerjaan bagus di negara asal, dan
  • Sedih karena sulit mencari teman orang lokal (Belanda asli).

Poin pertama dan kedua memang menarik, tapi poin ketiga ini lebih menarik di mata gue, karena gue juga sering mendengar celotehan orang yang mengeluh hal serupa. Maka itu gue mau menulis sedikit pendapat gue mengenai mencari teman orang Belanda, berdasarkan pengalaman pribadi.

Jangan terlalu banyak berharap bisa cepat berteman dengan orang lokal

Yep, itulah kenyataannya. Begitu kamu pindah ke Belanda, apapun alasan pindahnya, jangan terlalu banyak berharap kamu bisa cepat dapat teman orang lokal.

Orang Belanda asli, walaupun dari luar terlihat sangat ramah terhadap orang asing, butuh waktu lama untuk mereka menganggap kamu sebagai teman. Ketika kamu berkenalan dengan seorang Belanda di sebuah acara dan dia terlihat sangat ramah, jangan langsung berpikir bahwa dia langsung menganggapmu teman baru.

Hal ini mungkin bisa membawa gegar budaya sendiri apalagi jika kamu berasal dari negara yang guyub seperti Indonesia. Di Indonesia kan, baru ketemu orang satu kali, mungkin kita bisa langsung akrab dan langsung menyebut dia sebagai “teman baru”. Apalagi jika ternyata kita punya teman yang sama.

Orang Belanda mempunyai hierarki khusus dalam pertemanan. Ada yang namanya kenalan, teman, teman baik, lalu baru deh sahabat. Dalam kelas “teman” juga dibagi-bagi lagi jadi berbagai “kasta”. Ada kelas teman sekolah, teman kuliah, teman satu klub olahraga, dan lain-lain. Nggak ada sebutan teman kerja karena di sini jarang kolega bisa menjadi teman, kecuali jika salah satu sudah pindah kerja. Contohnya gue punya teman yang dulu sempat menjadi kolega.

Nah, karena adanya hierarki ini, sulit bagi orang Belanda untuk langsung menilai orang baru sebagai teman. Seorang kenalan di Twitter bercerita bahwa sebelum masuk kuliah di Belanda, dia berharap punya teman lokal. Setelah masuk kuliah, ternyata malah dapat teman baik dari Thailand. Teman Belandanya hanya sekedar lingkup teman satu proyek sekolah. Begitu proyeknya selesai, ya pertemanan juga selesai.

Jadi, kalau kamu bertemu kenalan orang lokal di sebuah acara, di bawa santai aja. Jangan langsung sok akrab. Langsung minta profil Facebook atau Instagram sih boleh-boleh aja, asalkan kamu merasa cocok setelah ngobrol dengan si orang Belanda itu (bukan ujug-ujug minta profil medsos mereka).

Jangan baper

Ketika kamu sudah merasa cocok dengan kenalan Belandamu dan kepengen ngajak mereka nongkrong lagi, jangan baper jika mereka menolak ajakan nongkrongmu dengan alasan “sibuk” atau jika mereka punya waktu sekitar satu bulan lagi untuk bertemu.

It’s just the way how the Dutch society works. Memang sudah banyak orang muda di Belanda yang meninggalkan prinsip “lihat agenda dulu ya”, namun pada kenyataannya praktek ini sudah mendarah daging di masyarakat Belanda. Bisa jadi, dengan atau tanpa agenda, mereka memang sudah sibuk dengan berbagai kegiatan sendiri. Mulai dari ngebir mingguan dengan teman, janjian main tenis, atau sekedar weekendtje weg keluar kota.

Namun jika mereka terus-menerus menolak ajakan bertemu, sudah lah, cari teman yang lain aja. Jika ini yang terjadi, sudah jelas bahwa mereka tidak membuka pintu untuk punya teman baru. Jangan di julid in atau jangan jadi baper karena hal ini tergolong sangat normal di Belanda. Banyak orang yang merasa bahwa mereka sudah mempunyai cukup teman dan ogah membuka diri untuk orang lain.

Nggak semua Belanda (kulit putih) itu modern

Gue memasukkan kata “kulit putih” di bagian ini dan seterusnya karena zaman sekarang komposisi Belanda tu sudah berbeda dengan Belanda yang kita kenal di zaman kolonial. Zaman sekarang sudah banyak orang Belanda dari etnis luar Belanda seperti Turki, Maroko, Suriname, Caribbean, kulit hitam, dan lain-lain.

Kenapa gue menuliskan warna kulit secara eksplisit? Karena masih banyak orang yang mengasosiasikan orang Belanda lokal sebagai orang kulit putih saja. Begitu juga di grup Facebook yang gue ikuti, setiap gue membaca tulisan mereka tentang orang Belanda, entah kenapa selalu stereotip white Dutch yang dituliskan orang-orang di sana.

Banyak yang mengira bahwa orang Belanda kulit putih tuh modern karena mereka sering bepergian dan anggapan bahwa mereka tinggal di lingkungan multi-etnis atau internasional. Belum lagi slogan “kami adalah negara toleran” yang sering digaungkan Belanda di pentas internasional (dan diamini oleh kebanyakan rakyatnya). Padahal kenyataannya tidak begitu.

Gue punya banyak cerita soal ini, salah satunya di lingkup pergaulan di kantor. Suatu hari, penjaga kantin kantor menyajikan soto ayam sebagai menu sup harian. Untuk gue dan orang-orang Belanda-Suriname yang kerja di sana, makan soto ayam bukanlah hal yang asing. Namun tidak untuk kolega-kolega kulit putih yang lain. Sembari menyendok kuah soto ayam, gue mendengar selentingan mereka, “How do you eat this?“. Bahkan salah satu kolega satu tim gue (white Dutch) jelas-jelas bilang dia nggak suka rasa soto ayam karena “it has too much spice” (terlalu berbumbu).

Teman gue, seorang wanita paruh baya yang punya anak umur 20-an, sempat bercerita tentang selentingan anaknya yang saat itu baru masuk kuliah. Dia bilang, “Anak gue yang baru masuk kuliah cerita bahwa dia punya teman-teman baru, kulit putih, yang nggak pernah makan doner kebab atau Chinese food sebelumnya”. Biasanya mereka berasal dari pedesaan Belanda yang mungkin 100% penduduknya orang Belanda kulit putih, sehingga mereka kurang terekspos dengan makanan lain di luar sana selain makanan Belanda dan snack seperti hamburger atau kentang goreng.

Ada juga sih, orang-orang Belanda kulit putih yang lebih pintar membawa diri di kalangan internasional. Jika kamu seorang pelajar maka kamu akan sering menemukan orang-orang Belanda “unik” ini lebih nyambung dengan mahasiswa internasional dan kamu akan jarang menemukan mereka nongkrong dengan sesama Belanda. Biasanya orang-orang Belanda model ini sudah terekspos dengan lingkungan internasional sejak kecil, entah itu dari faktor keluarga (misalnya dia dari keluarga campuran) atau pernah tinggal/bersekolah di negara lain. Jadi dia sudah pernah merasakan rasanya menjadi “minoritas”, gitu.

Kenapa tidak coba mencari teman orang Belanda dari kalangan imigran?

Jujur, sudah hampir delapan tahun gue tinggal di Belanda, dan gue cuma punya SATU teman orang Belanda kulit putih yang bisa dibilang beneran teman. Gue mengakui bahwa gue sudah malas berusaha mencari teman orang Belanda, apalagi Belanda kulit putih. Untuk gue, rata-rata dari mereka cukup membosankan. Kenal orang Belanda kulit putih yang beneran asyik diajak ngobrol dan bisa mengerti posisi lu sebagai imigran tuh jarang banget.

Belakangan ini gue punya sih temen baru, pasangan Belanda kulit putih. Tapi gue kenal mereka juga karena mereka temennya suami gue. Gue sendiri, jika harus bergaul sendirian sama mereka, kayaknya ogah… karena mereka itu Belanda totok banget jadi ada benturan budaya, selain itu ada banyak pemikiran mereka yang nggak nyambung sama gue.

Nah, untuk kalian yang sedang berusaha mencari teman orang lokal Belanda tapi sepertinya nggak dapat-dapat, kenapa nggak cari teman Belanda imigran generasi kedua aja? Seperti yang gue sebutkan di atas, Belanda zaman sekarang tuh nggak melulu kulit putih doang. Banyak orang Belanda dari keturunan Karibia, Suriname, Indonesia, pokoknya darah Belanda modern tuh sudah sangat variatif. Menurut gue, berteman dengan mereka tuh lebih dinamis karena mereka lebih ramah dan lebih hangat. Bekas kolega gue yang akhirnya jadi teman, misalnya. Dia adalah orang Belanda keturunan Pakistan-Suriname. Berteman dengannya sungguh enak karena dia orangnya sangat ramah, karena selain sesama kulit berwarna, kami juga tetap mengindahkan kaidah pertemanan normal di Belanda, seperti mengabari jauh-jauh hari jika mau berkunjung dan kebiasaan-kebiasaan “Belanda” lainnya.

Berteman dengan sesama imigran juga nggak salah

Selain itu, berteman dengan sesama imigran juga nggak salah, kok. Kamu nggak harus punya teman orang Belanda kulit putih untuk membuktikan bahwa kamu sudah settled di Belanda. Gimana kalau cara kamu settle adalah dengan cara membentuk komunitas kecil sesama imigran, di mana kamu bisa merasa lebih nyaman?

Selain bergaul dengan orang Belanda imigran generasi kedua, gue juga lebih nyaman berteman dengan imigran generasi pertama. Rasanya seneng aja gitu, punya teman yang mengerti keluh kesah sesama pendatang. Selain itu, berteman dengan imigran juga memperluas khazanah pergaulan. Teman Amerika Latin akan menganggap kamu seperti saudara, teman asal Eropa Timur akan bergaul denganmu seperti kamu teman lama. Punya teman dari sesama negara Asia Tenggara akan membuat kamu merasa “kembali ke rumah”.

Buat yang sedang berusaha mencari teman di Belanda, saran gue: nggak usah pilih-pilih atau ngotot “harus punya teman orang lokal Belanda kulit putih”. Percayalah bahwa butuh bertahun-tahun lamanya untuk kita, imigran, untuk di terima di lingkaran pertemanan orang Belanda asli. Why trying too hard to fit in when you know you can create your own circle, or maybe just being with yourself? Menurut gue, punya temen Belanda asli juga nggak bikin untung banget, kok. Keuntungan yang sama bisa didapatkan jika kamu punya teman orang Belanda imigran generasi pertama atau kedua.

2 komentar pada “Mencari teman orang lokal Belanda, apakah sulit?”

  1. Bener, aku setuju. Teman adalah teman, kenapa kudu nyari orang lokal banget kan juga belum tentu cocok. Teman buat aku harus cocok (ada orang yang berteman dengan orang yang beda ideologi tanpa konflik, sementara kalo aku harus cari yang bener pas sama aku), dan teman2 aku sekarang (baik yang belum ataupun sudah berkeluarga) tipe2 yang ngga ngabar2in berminggu2 juga fine, tapi bisa tiba2 ngajak ketemuan ya ayok aja. Ga harus telpon2an atau mesej2an ala abg.

    Disini aku punya beberapa teman orang Danish, dan kira2 70% dari teman yang ada adalah orang Danish yang “internasional” alias yang udah pernah tinggal di luar negeri, atau mungkin ada darah imigran (bapak atau ibu non-Danish). Yang bener2 Danish yang tinggal di kota kecil sampe pindah ke Copenhagen, ga pernah tinggal di Luar negeri kayaknya ngga ada haha.

    Suka

    1. Satu2nya temenku yang orang Belanda kulit putih itu hidup sejak kecil di daerah multikultural, pergi ke sekolah negeri yang banyak orang berwarnanya juga, mungkin itu salah satu alasan kami cocok. Ya, makanya aku bingung dengan orang2 yang maksa banget harus punya temen orang Belanda kulit putih. Buat apaan sih, kalo ngga cocok ya mending cari temen lain tanpa pandang2 dia warga lokal atau ngga.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.